Teknik Menangani Anak Berkebutuhan Khusus

Generasi Sehat dan Cerdas (GSC), merupakan program pemer-intah dalam rangka pengentasan kemiskinan yang terfokus dalam penanganan Kesehatan dan Pendidikan khususnya Pendidikan Dasar. Penanganan siswa atau siswi dalam sekolah inklusi adalah siswa yang sudah masuk dalam pendidikan dasar setingkat anak usia SD dan SMP (usia 7 sampai 15 tahun).

Dalam perjalanannya penanganan pendidikan dalam kegiatan GSC Kecamatan Lembeyan belum intens menangani pendidikan inklusi. Namun tahun ini sudah dimu-lai pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang dimulai dengan kegiatan identifikasi awal kemudian Asessment. Berikutnya terapi siswa inklusi dilanjutkan dengan intensif sekolah inklusi, classical dan outing class. Pengembangan jiwa sosial siswa melalui bakti sosial dan kegiatan akhir kelas inklusi berupa unjuk kebolehan potensi siswa.

Adapun konsep dasar yang diambil dari pelaksanaan kegiatan ini adalah pendidikan untuk semua:

  • Setiap anak berhak untuk mengakses dan mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak
  • Belajar hidup bersama dan bersosialisasi
  • Setiap anak berhak untuk mendapatkan perhatian yang sama se-bagai peserta didik
  • Integrasi pada lingkungan
  • Setiap anak berhak menyatu dengan lingkungannya dan menjalin kehidupan sosial yang harmonis enerimaan terhadap perbedaan
  • Setiap anak berhak dipandang sama dan tidak mendapatkan diskriminasi dalam pendidikan.

Hal awal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan Penanganan ABK adalah koordinasi yang intens ketika usulan desa yang tertuang dalam Dokumen SPPB akan dilaksanakan. Di GSC Kecamatan Lembeyan dilakukan dengan, Pertama, koordinasi dengan UPTD Pendidi-kan, yang diteruskan dengan Rapat koordinasi dengan Kepala Sekolah sekecamatan. Kedua, pelatihan Komite Sekolah dengan maksud mem-berikan gambaran awal akan pelaksanaan kegiatan ABK. Ketiga, komu-nikasi dengan orang tua murid dan guru kelas saat pendataan awal. Ketiga hal ini sangat penting karena akan berpengaruh pada kelan-caran kegiatan­ penanganan siswa ABK Berikutnya. Setelah hal diatas dilakukan langkah teknis berikutnya seperti pada bagan berikut :

Identifikasi Awal. Dalam kegiatan ini, hal yang dapat dilakukan adalah koordinasi dengan sekolah terkait yang dilakukan oleh PK, KPMD bersama TPMD untuk menggali dan memperoleh data siswa secara real berdasarkan keterangan guru bidang studi masing-masing. Metode yang dapat digunakan dengan tanya jawab langsung dan survei ke­ adaan siswa, secara umum mungkin akan didapatkan siswa atau siswi dengan karakter keterbatasan:

  • Permasalahan fungsi pikir
  • Hambatan kesukaran belajar. kesulitan memahami, mengingat, menghitung, membaca
  • Hambatan pemusatan perhatian. Hiperaktif, perilaku yang tidak sesuai situasi, mencari perhatian, menyela       pembicaraan, perilaku berlebihan
  • Hambatan berbicara dan berkomunikasi. Gagap, kesalahan peng­ ucapan, cedal, sulit menangkap percakapan permasalahan fungsi sosial dan perilaku
  • Hambatan emosi dan perilaku
  • Suasana hati berubah cepat, agresif, memukul, berteriak, mengejek autis
  • Minim kontak sosial, menyendiri, gerakan tak lazim
  • Suasana hati berubah cepat, agresif, memukul, berteriak, mengejek autis
  • Minim kontak sosial, menyendiri, gerakan tak lazim
  • Jenis keterbatasan anak keterlambatan fungsi pikir dan sosial
  • Mental Retarded. IQ dibawah rerata, keterbatasan berkomunikasi, kompetensi akademis minim anak berbakat
  • Gifted. Kreatif, suka mengganggu, mudah tidak puas, eksplorasi luas gangguan fisik dan indera
  • Gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan keterbatasan ganda (penglihatan dan pendengaran)
  • Penggalian data.

Assesment Siswa ABK, Secara umum dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun yang dapat digu-nakan untuk dasar pengambilan keputusan tentang siswa baik yang menyangkut kurikulumnya maupun program pembelajarannya kelak.Secara sederhana dapat diartikan sebagai proses pengukuran untuk memperoleh data karakteristik peserta didik dengan aturan tertentu. Ada beberapa hal yang dilakukan yaitu Pengukuran Kemampuan Siswa, Evaluasi Hasil Pengukuran Kemampuan Siswa, yang dilakukan dalam bentuk tes.Pelaksanaan kegiatan Assesment siswa ABK bertujuan untuk meng-gali kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor siswa, sehingga akan diperoleh data siswa yang di atas garis normal dan siswa di bawah garis normal.

Apabila hasil kegiatan Assesment didapati siswa diatas garis normal; Cerdas Luar biasa, IQ Super, atau didapati siswa dibawah garis normal;Low Learner, Tuna Grahita, Tuna Laras, maka siswa terdata tersebut akan dididik untuk masuk kelas ABK atau sekolah inklusi.

Sedangkan bila hasil assesment didapati siswa tersebut normal, maka akan dikembalikan ke sekolah asal untuk dibimbing secara khusus oleh guru BK (Bimbingan Konseling).Sekolah inklusi yang dilaksanakan GSC Kecamatan Lembeyan Kegia-tan sekolah diluar jam pembelajaran efektif (dilaksanakan siang sampai sore hari) dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidik­ an khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.

Dalam sekolah inklusi ada kurikulum individual yaitu kurikulum khusus individu tertentu sehingga dengan metode seperti ini, sistem kurikulum mencoba mengembangkan anak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Tujuannya adalah membimbing anak untuk sukses dalam kehidupan masyarakat dengan bakat yang mereka miliki. Walaupun sekolah inklusi memiliki kurikulum individual bukan berarti kurikulum nasional diabaikan. Kurikulum individual itu sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum nasional sehingga perserta didik mampu lebih mengoptimalkan potensinya. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas (Classical) disamping juga dilaku-kan dalam bentuk kegiatan luar kelas (Outing Class). Agar siswa tidak merasa jenuh dan tumbuh rasa peka terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Kegiatan luar kelas ini sangat berpengaruh besar terhadap psikomotorik siswa dan afektif mereka.

Orang Tua Ikut Berperan Serta Aktif. Hal lain yang juga diharapkan dalam kegiatan Kelas Inklusi ABK adalah adanya kepedulian dari orang tua masing-masing sehingga setelah kegiatan ABK selesai orang tua dapat membimbing dirumah masing-masing sebagai bentuk kerjasama yang berkesinambungan dan saling mempengaruhi.

Keuntungan program inklusi anak dengan kebutuhan khusus

  • Terhindar dari label negatif
  • Anak memiliki rasa percaya diri
  • Memiliki kesempatan menyesuaikan diri
  • Anak memiliki kesiapan menghadapi kehidupan nyata
  • Anak Tanpa Kebutuhan Khusus belajar mengenai keterbatasan tertentu
  • Mengetahui keterbatasan atau keunikan temannya
  • Peduli terhadap keterbatasan temannya
  • Dapat mengembangkan keterampilan sosial
  • Berempati terhadap permasalah temannya embantu temannya yang kesulitan.

Itulah sedikit curahan ilmu dan pembelajaran dari GSC Kecamatan Lambeyan Kabupaten Jawa Timur. Semoga dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian dan meningkatkan perhatian kita kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Karena sejatinya tidak boleh ada satupun anak-anak yang berkebutuhan khusus ini diabaikan. bagaimanapun juga mereka merupakan anak-anak yang mampu menentukan masa depan sebuah bangsa. Bangsa yang hebat bukanlah bangsa yang memiliki banyak gedung tinggi dan uang yang melimpah, melainkan bangsa yang memiliki karakter dan prinsip yang kuat. (fi)

Sumber : Kisah Inspiratif GSC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons