Makanan Lokal Pengentas Gizi Buruk

Gizi buruk, gizi kurang, berat badan tidak naik, bayi dan balita malas makan. Mungkin itu adalah permasalahan kesehat­an bagi sebagian besar ibu yang tinggal di desa-desa di Jawa timur atau pun di wilayah lain Indonesia.

Ide untuk menangani persoalan gizi buruk bervariasi. Berbagai hal telah dicoba dari tahun ke tahun. Mulai dari penyuluhan, paket pemberian makanan tambahan hingga dibawa ke dokter untuk penanganan lebih intensif terjadinya gizi buruk atau gizi kurang yang dialami oleh bayi dan balita.

Namun, hal itu masih belum optimal karena kesehatan bayi dan balita tidak tetap. Ia bergerak sesuai dengan kondisi fisik masing-ma­ sing. Salah satu penanganan terkait gizi buruk adalah dengan TFC (The-rapheutic Feeding Center) atau “Pusat Terapi Pemberian Makanan” bagi bayi dan balita yang BGM (Bawah Garis Merah) atau yang umum sering disebut gizi buruk. Namun, pola penanganan ini membutuhkan biaya yang cukup besar, karena harus membangun pusat karantina (Rumah Tinggal Sementara) bagi bayi dan balita untuk tinggal sementara agar dapat ditangani secara intensif oleh tenaga kesehatan serta dokter spesialis­ di tempat tersebut.

Salah satu pengalaman bayi BGM dilakukan di Kecamatan Ngari-boyo Kabupaten Magetan. Hal pertama yang dilakukan adalah sosial-isasi jauh-jauh hari kepada masyarakat desa khususnya bagi para ibu yang memiliki bayi dan balita. Sosialisasi ini dilakukan di masjid dan mushola bekerja sama dengan para pamong desa sebagai bekal meng-hadiri Musyawarah Dusun dan Penggalian Gagasan.

berita2Saat musyawarah dusun dilakukan dan dilanjutkan dengan FGD(Focus Group Discussion) atau biasa disebut Diskusi Khusus Kelompok Perempuan, Fasilitator Desa/Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) dibantu para kader Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) meny-ampaikan kepada masyarakat tentang sosialisasi GSC dan menggali permasalahan kesehatan di dusun.

Sambutan positif muncul dari masyarakat dan antusias untuk mem-bangun pola kesehatan dan pendidikan bagi generasi mereka pada masa yang akan datang.Diskusi dengan masyarakat desa dan petugas kesehatan desa pun terus berlanjut hingga di kecamatan dengan jalan mengumpulkan para penanggung jawab kesehatan desa (bidan desa) di sela-sela ke­ sibukan mereka. Akhirnya munculah ide Pemberian Makanan Siap Saji di tempat. Gayung bersambut. Dari Puskesmas, Dr. Hari mendukung ide ini dan memberikan buku tentang menu kepada para penang-gung jawab kesehatan guna ditindak-lanjuti dan diberikan penyuluhan kepada para kader Posyandu di desa.

Awalnya memang sulit, masyarakat khususnya kaum ibu harus be-lajar menu lokal yang sederhana yang mudah di masak dengan nilai gizi sesuai dengan usia bayi dan balita pada usia pertumbuhan mereka.

berita3Karena hal ini merupakan sesuatu yang baru untuk menjawab per-masalahan penanganan gizi buruk dan gizi kurang, dibutuhkan tenaga ekstra dari para kader desa untuk memberikan bimbingan tentang menu lokal yang harus dimasak sendiri oleh masyarakat. Menu lokal yang telah diajarkan oleh para penanggungjawab desa (bidan desa) sebelum nanti dikonsumsi oleh para pemanfaat, selama 30 HMA (Hari Makan Anak) atau 3 bulan penuh menu tersebut harus dimasak sendi-ri oleh masyarakat dan juga harus dikonsumsi oleh bayi dan balita.

Hasilnya luar biasa, dalam hitungan satu bulan berat badan dan kese­ hatan bayi terpantau lebih baik.Karena sifatnya pembelajaran kepada masyarakat, maka saat ke­ giatan Posyandu semua ibu yang memiliki bayi dan balita di haruskan mengkonsumsi ditempat layanan Posyandu makanan lokal siap saji yang diberikan. Setiap ibu juga harus membawa tempat makan bayi dan balita sendiri seperti: piring, sendok, dan gelas. Sebelum pelak-sanaan makan ditempat, setiap ibu diajarkan membersihkan tangan dengan cuci tangan dengan air yang mengalir dan sabun. Tujuannya untuk menjaga kesehatan.

Pola makan siap saji ditempat ternyata efektif dan efisien, karena proses pemantauan bantuan PMT dapat langsung disaksikan dan dikonsumsi oleh pemanfaat. Makanan benar-benar dapat dikonsumsi oleh bayi dan balita. Hal ini dilakukan pada semua Posyandu se-Ke-camatan Ngariboyo.

Kegiatan pemberian makanan siap saji ditempat dan dikonsumsi langsung oleh bayi dan balita secara masal memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain menjalin keakraban, meningkatkan nafsu makan anak karena dikonsumsi bersama dengan bayi dan balita yang lain, juga mengajarkan kepada masyarakat tentang menu lokal yang lebih segar dibandingkan dengan makanan instan. Di sisi lain juga me­ ngajarkan kepada masyarakat bahwa banyak menu lokal yang dapat mereka olah untuk dikonsumsi dan mudah mencarinya dengan kadar gizi yang tidak kalah baik dengan makanan instan.

berita4Pelatihan yang diberikan menjadikan masyarakat lebih siap untuk mengelola sendiri menu-menu lokal yang dapat dengan mudah mereka peroleh di sekitar halaman mereka yang terlepas dari bahan pengawet.Dan tentunya generasi ke depan merupakan generasi yang benar-be-nar sehat untuk masa depan yang lebih baik

One Response to Makanan Lokal Pengentas Gizi Buruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons